TSOiGUY8Tfd6BSWoBUriGUWpGA==
Light Dark
Dugaan Diskriminasi Wartawan oleh Pemda Lombok Barat: Ancaman Serius bagi Transparansi Publik

Dugaan Diskriminasi Wartawan oleh Pemda Lombok Barat: Ancaman Serius bagi Transparansi Publik

Daftar Isi
×



Lombok Barat, DTulis.com - Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Barat (Lobar) kini menjadi sorotan tajam dari pemilik media dan organisasi wartawan. Tuduhan serius dilayangkan: Pemda diduga sengaja memilih-milah undangan jurnalis untuk liputan acara resmi, bahkan diduga mengkotak-kotakkan profesi pers hingga menolak wawancara bagi yang dianggap "bukan wartawan mereka sendiri". 

Praktik ini bukan sekadar kelalaian administratif, melainkan bentuk diskriminasi yang melanggar etika jurnalisme dan hak publik atas informasi transparan.

Keluhan ini mencuat nyata setelah serangkaian acara Pemda Lobar like peresmian proyek infrastruktur dan rapat koordinasi hanya mengundang media tertentu yang dianggap "ramah". 

Ketua SMSI Lombok Barat, Idrus Jalmonadi menegaskan, "Ini bukan soal akses informasi, tapi diskriminasi yang melanggar Undang-Undang Pers. Sejak pertengahan 2025, undangan dibatasi berdasarkan afiliasi, bukan kredensial jurnalistik. Akibatnya, wartawan independen seperti kami kesulitan wawancara pejabat.

"Data dari Gabungan Jurnalis Investigasi NTB memperkuat tudingan  ini. Pembina GJI NTB mengungkapkan, "Kami terima pengaduan dari 15 anggota soal penolakan liputan. Ini berpotensi menghambat fungsi kontrol sosial media." 

Sementara Biro Humas Pemda Lobar belum merespons resmi, sumber internal hanya berdalih "efisiensi acara" alasan klise yang tak bisa menutupi niat memfilter suara kritis.

Kasus serupa pernah bergulir di Lombok Tengah, yang berujung mediasi Dewan Pers. Ironisnya, praktik ini justru merusak iklim jurnalisme lokal, melemahkan pengawasan publik terhadap proyek pemerintah, dan membuka celah korupsi.

 Transparansi Pemda harus untuk semua media, bukan elite yang patuh. GJI NTB dan  Ketua SMSI Lobar  mendesak Gubernur NTB dan Dewan Pers segera investigasi. Hentikan diskriminasi ini sebelum meracuni demokrasi lokal. Publik Lombok Barat berhak tahu—tanpa filter. 

0Komentar

Special Ads
Special Ads
Special Ads