Meskipun tingkat partisipasi peserta pelatihan sangat tinggi, pihak BLK mengakui adanya beberapa tantangan yang perlu segera diatasi, di antaranya:
Keterbatasan Sarana: Perlunya pembaruan alat praktik agar sesuai dengan standar industri modern.
Relevansi Kurikulum: Penyesuaian materi ajar agar tetap adaptif dengan dinamika pasar kerja yang cepat berubah.
Kompetensi Instruktur: Peningkatan kapasitas pengajar secara berkala.
Selain fokus pada penempatan kerja di sektor formal, Pemerintah Provinsi NTB juga mendorong para lulusan BLK untuk memiliki mentalitas wirausaha.
Ummi Dinda berharap lulusan BLK tidak hanya menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja (job creator). Hal ini dianggap krusial untuk menekan angka pengangguran di NTB secara signifikan.
Kunjungan kerja ini merupakan bagian dari komitmen panjang Pemprov NTB dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pelatihan berbasis kompetensi.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, lembaga pelatihan, dan sektor swasta, BLK NTB optimis dapat mencetak generasi emas yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

0Komentar