Lombok Barat, DTulis.com - Sayembara Riset dan Inovasi Daerah Provinsi NTB Tahun 2026 memasuki tahap seleksi substansi setelah 232 proposal dinyatakan lolos seleksi administrasi. Jumlah tersebut melampaui perkiraan awal, sehingga Tim Evaluasi Riset dan Inovasi Daerah perlu menyesuaikan mekanisme penilaian agar proses seleksi tetap efektif, objektif, dan terukur.
Dalam rapat lanjutan pembahasan Sayembara Riset dan Inovasi Daerah Tahun 2026 Tahap 1, Tim Evaluasi menyepakati pentingnya pemetaan proposal berdasarkan tiga tema prioritas, yaitu ketahanan pangan, pariwisata berkelanjutan, dan pengentasan kemiskinan ekstrem. Pemetaan tersebut dilakukan untuk mengetahui sebaran proposal pada setiap tema sekaligus membagi proses penilaian secara proporsional sesuai jumlah dan karakteristik proposal.
Perwakilan Tim Seleksi menjelaskan bahwa hasil pemetaan akan menjadi dasar pembagian proposal kepada evaluator sesuai kapasitas dan bidang keahlian. Setiap evaluator kemudian melakukan penilaian awal sebelum hasilnya dibandingkan dan dibahas bersama. Mekanisme ini diharapkan dapat mengurangi subjektivitas dan memberikan kesempatan yang proporsional bagi setiap tema untuk menghasilkan proposal terbaik.
Pada tahap substansi, tim tidak lagi berfokus pada aspek administratif yang telah dinilai sebelumnya. Penilaian diarahkan pada kualitas rumusan masalah, kebaruan, metodologi, relevansi dengan prioritas pembangunan, serta kelayakan dan dampak luaran. Potensi hasil riset untuk dikembangkan menjadi produk atau solusi yang dapat diterapkan juga menjadi perhatian penting dalam proses seleksi.
Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, menegaskan bahwa penilaian tidak cukup dilakukan berdasarkan judul proposal. Menurutnya, tim perlu melihat kualitas substansi dan peluang setiap riset untuk menghasilkan manfaat nyata bagi pembangunan daerah.
“Yang kita pilih bukan hanya judul yang bagus, tetapi yang substansinya kuat dan bisa dikembangkan sampai menghasilkan produk atau solusi,” ujar Kepala BRIDA NTB.
Ia menjelaskan, tema proposal yang masuk cukup beragam, antara lain digitalisasi, kemiskinan, maritim, serta pengembangan herbal berbasis potensi lokal. Keragaman tersebut menunjukkan adanya peluang bagi riset daerah untuk menjawab berbagai kebutuhan pembangunan di NTB.
BRIDA NTB selanjutnya akan mengarahkan riset terpilih untuk mendapatkan pendampingan dan pengembangan melalui tahapan inkubasi inovasi pada 2027.
Hasil riset yang memiliki potensi ekonomi dan sosial akan diarahkan menuju hilirisasi agar manfaatnya tidak berhenti pada rekomendasi, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk atau solusi yang terukur.
Melalui proses seleksi yang lebih terarah, BRIDA NTB menargetkan lahirnya riset unggulan yang tidak hanya memenuhi standar ilmiah, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pembangunan dan memiliki peluang untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat NTB.

