Dalam pemaparannya, KBP Lili Warli memberikan pemahaman mendalam mengenai spektrum intoleransi, radikalisme, ekstremisme, hingga terorisme (IRE) serta dampaknya yang destruktif terhadap individu, keharmonisan keluarga, dan lingkungan sosial. Beliau menguraikan tiga klaster utama ekstremisme berbasis kekerasan beserta karakteristiknya, yakni:
Religiously Motivated Violent Extremism (RMVE)
Ideologically Motivated Violent Extremism (IMVE)
Nihilistic Violent Extremism (NVE)
Untuk menghadapi ancaman tersebut, Kasatgaswil NTB memaparkan langkah antisipasi dan mitigasi yang meliputi penguatan peran aktif keluarga, lembaga pendidikan, aparat keamanan, dan instansi terkait; peningkatan literasi digital kritis; kolaborasi lintas sektor; serta pengawasan dan perlindungan ketat terhadap anak dalam menggunakan ruang digital.
Sebagai bentuk antisipasi, Kasatgaswil NTB memaparkan langkah strategis yang dapat diterapkan dalam lingkup keluarga, antara lain:
Memperkuat pondasi agama yang moderat: Mengajarkan nilai kasih sayang, toleransi, kedamaian, serta membimbing anak belajar agama dari sumber yang kredibel.
Pengawasan aktivitas digital: Membatasi dan mendampingi penggunaan gawai serta melatih kemampuan berpikir kritis anak agar tidak mudah terprovokas
Komunikasi terbuka & kehangatan emosional: Menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita tanpa dihakimi, serta peka terhadap perubahan perilaku drastis seperti anak yang menjadi lebih tertutup.
Penguatan karakter & aktivitas positif: Menanamkan empati dan penghargaan terhadap perbedaan sejak dini, serta mengarahkan anak pada kegiatan positif seperti olahraga, seni, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Sementara itu, langkah preventif ini mendapat sambutan hangat dan apresiasi tinggi dari Ketua TP-PKK Provinsi NTB, Ibu Hj. Sinta Agathia Soedjoko Iqbal. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kasatgaswil NTB Densus 88 AT Polri atas kesediaan meluangkan waktu memberikan edukasi krusial ini.
“Edukasi dan pemahaman ini sangat penting sebagai langkah nyata menjaga anak-anak dan remaja kita dari ancaman paparan paham radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan demi masa depan generasi bangsa yang aman dan damai,” ungkapnya.
Kegiatan Rakerda ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara narasumber dan para pengurus PKK kabupaten/kota, menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam memperkuat ketahanan keluarga di Provinsi NTB.

