Lombok Barat, DTulis.com - BRIDA NTB bersama Yayasan Rumah Energi dan stakeholder terkait telah melakukan riset pengembangan air lindi dan berhasil menciptakan prototype mesin pengolah limbah air lindi menjadi biogas dan pupuk cair organik sejak tahun 2025.
Hasil riset ini menunjukkan bahwa sampah tidak selamanya menghadirkan aneka musibah, mulai dari polusi tanah, air dan udara serta wabah penyakit hingga bau yang menyengat, akan tetapi dibalik setiap musibah, selalu saja ada berkah. Dibalik bau anyir air lindi ternyata tersimpan energi alternatif berupa biogas yang bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga dan industri pengolahan lainnya.
Dengan volume limbah air lindi di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Kebon Kongok yang mencapai 50 M3 per hari, jika diolah menggunakan teknologi dan mesin tepat guna, maka akan menghasilkan biogas yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan energi puluhan hingga ratusan masyarakat yang ada di sekitar TPA Kebon Kongok. Selain biogas untuk mendukung usaha ekonomi produktif, air lindi yang dihasilkan dari riset tersebut juga dapat menghasilkan pupuk cair organik yang bisa dimanfaatkan untuk para petani.
Sebagai bagian dari upaya nyata implementasi hasil riset air lindi tersebut, Kepala serta jajaran tim Pokja Ekonomi & Pembangunan BRIDA NTB selaku pengampu riset sampah di Kebon Kongok, bersama Yayasan Rumah Energi dan Aparatur Desa Sukamakmur yang menaungi wilayah TPA Kebon Kongok melakukan pembahasan mekanisme dan teknis penyaluran biogas air lindi yang bertempat di kantor BRIDA NTB pada Jumat (6/3/2026).
Dalam pertemuan tersebut, dibahas secara teknis bagaimana mengalirkan biogas yang dihasilkan dari air lindi ke rumah penduduk terdekat atau ke fasilitas umum yang ada. Hal ini membutuhkan edukasi, sosialisasi dan persamaan persepsi antar semua pihak terutama masyarakat sekitar untuk mengawal keberlanjutan dan mitigasi risiko, mengingat riset air lindi di TPA Kebon Kongok adalah satu-satunya yang ada di Indonesia saat ini dan akan menjadi percontohan bagi wilayah lain.
BRIDA NTB bersama Yayasan Rumah Energi dan tim peneliti akan melakukan pemetaan lokasi serta penyusunan denah titik instalasi biogas. Selain itu, akan disiapkan pula draft regulasi desa atau awik-awik sebagai landasan pengelolaan dan pemanfaatan hasil riset oleh masyarakat, dengan mendorong keterlibatan kelembagaan desa seperti BUMDes agar pengelolaannya dapat berjalan secara berkelanjutan.
Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi menghimbau agar Pemerintah Desa melakukan manajemen resiko, analisis kemanfaatan, dan menerapkan prinsip keadilan dalam distribusi program biogas tersebut di lapangan. Biogas tersebut ditargetkan untuk lokasi yang terdampak langsung dari adanya aktivitas TPA, serta untuk mendukung fasilitas-fasilitas pendidikan, sosial, dan ibadah yang ada di sekitar lokasi.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Desa Sukamakmur yang diwakilkan oleh Kepala Desa, H. Selamet, menyampaikan dukungan dan apresiasi yang tinggi terhadap program ini, sekaligus akan melakukan musyawarah desa guna memastikan pemanfaatan program dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat di setiap dusun.
Selain membahas terkait penyaluran biogas air lindi, BRIDA dan Rumah Energi juga menyinggung terkait pengelolaan sampah dari hulu ke hilir - dari limbah dapur melalui mesin biodigester sehingga manfaatnya bisa dirasakan langsung tanpa perlu ditumpuk di TPA Kebon Kongok karena kapasitas penampungan sampah di lokasi tersebut sudah melebihi daya tampung.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, peneliti, dan masyarakat desa, inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi pengelolaan limbah yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi dan sosial, terutama bagi masyarakat sekitar kawasan Kebon Kongok.


0Komentar