Lebih lagi, setiap stand dikenakan iuran bulanan sebesar Rp. 500.000 untuk yang jualan sore-malam dan Rp. 400.000 untuk yang berjualan pagi-siang.
Besaran iuran itu dianggap bukannya membantu UMKM, namun malah menguras kantong, karena harga rata-rata yang dijual berkirasan Rp. 3.000.
Dari sumber media ini mengatakan bahwa fasilitas yaang diberikan sangatlah minim dengan iuran sebesar itu, dimana kondisi air di lokasi tersebut sangat tidak layak konsumsi.
"Iurannya besar mas, kita di sini harga barang tiga ribuan. Apalagi kondisi airnya jelek, dan kadang kita bawa dari rumah airnya. selain itu, kita ingin uang iuran 500 ribu rupiah itu dirincikan secara detail untuk apa saja," keluhnya.
Adapun jika ditotalkan pendapatan pertahun Koperasi Angkasa Pura yang mengelola iuran para pedagang UMKM di Bale Selaparang tersebut bisa mencapai 500 Juta Rupiah per tahun.
"Seharusnya pihak pengelola melakukan pendataan dan pengecekan terlebih dahulu, dengan iuran sebesar itu sama aja dengan menguras keringat kami. Belum lagi kami harus membayar karyawan juga," ungkap salah satu pedagang yang tak ingin disebutkan namanya.
Sementara itu, pedagang tersebut juga mengungkapkan bahwa untuk tanda tangan kontrak harus bayar uang bulanan terlebih dahulu. "Seharusnya kita baca dulu kontraknya, jika bagus untuk para pedagang kan bisa kita bayar langsung. Nanti kalo itu merugikan kami para pelaku UMKM disini bagaimana?, " tandasnya.

0Komentar