Lombok Barat, DTulis.com – Kejadian menyedihkan melanda keluarga warga Desa Kuripan, Dusun Ketemek, Kabupaten Lombok Barat, ketika pasien bernama Serinah yang sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gerung meninggal dunia setelah keluarga dinyatakan tidak boleh memasuki ruangan dan tidak adanya perawatan dokter saat kondisinya memburuk.
Peristiwa ini bermula ketika Serinah telah menjalani perawatan selama dua hari di RSUD Gerung. Menurut keterangan keluarga, pasien telah menunjukkan tanda-tanda kondisi memburuk sejak hari sebelumnya, sehingga mereka terus mengawasi dari luar ruangan, mengikuti aturan yang mereka pikir berlaku di rumah sakit. Pada hari Kamis (4/12), ketika keluarga sedang menunggu dengan khawatir, tiba-tiba beberapa orang petugas keamanan datang dengan nada marah dan membentak mereka untuk menyuruh keluar dari area sekitar ruangan pasien.
"Biasanya kita boleh nunggu di luar ruangan, bahkan kadang bisa masuk sebentar untuk memeriksa kondisi. Tapi hari itu tiba-tiba ada security yang marah-marah, memaksa kita keluar jauh ke area parkir. Kita cuma mau tahu kabar pasien, yang kondisinya udah kritis sejak kemarin. Kita nanya-nanya juga tidak dibales," ujar salah satu keluarga yang tidak mau disebutkan namanya, masih teringat dengan kejadian yang membuatnya terkejut.
Setelah bentakan dan pengusiran tersebut, keluarga hanya sempat berdiri jauh dan memandang ruangan dari kejauhan. Namun, hanya beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar dengan wajah suram dan memberitahu mereka bahwa Serinah telah meninggal dunia. Keluarga menyatakan bahwa pada saat pasien mengalami kondisi kritis yang akhirnya menyebabkan kematian, tidak ada dokter atau perawat yang berada di dekatnya untuk memberikan penanganan darurat. Mereka menyebutkan bahwa selama waktu yang singkat itu, tidak ada satupun tenaga medis yang terlihat memasuki atau keluar dari ruangan pasien.
Anak dan suami Serinah mengungkapkan kesedihan mendalam serta keberatan yang kuat terhadap pelayanan yang diberikan pihak RSUD Gerung. Mereka menyatakan bahwa peraturan yang dijalankan petugas keamanan tidak masuk akal, terutama ketika pasien dalam kondisi yang membutuhkan perhatian keluarga dan perawatan medis segera.
"Kita sedih banget, tidak cuma karena mama meninggal, tapi karena cara pihak rumah sakit menangani. Saat mama butuh dokter, tidak ada yang datang. Saat kita mau mendekat untuk memberinya semangat atau memastikan dia baik-baik saja, kita diusir. Ini bukan pelayanan yang seharusnya diberikan rumah sakit yang bertanggung jawab terhadap nyawa orang. Kita merasa seperti tidak diberikan kesempatan untuk melihat mama untuk yang terakhir kalinya, dan mama juga tidak mendapatkan perawatan yang layak," kata anak korban dengan suara terengah-engah, menangis.
Suami Serinah juga menambahkan bahwa sebelum kejadian, mereka telah meminta perhatian dokter berkali-kali karena kondisi pasien semakin memburuk, tetapi permintaan itu tampaknya tidak diperhatikan. "Kita bilang ke perawat bahwa mama sulit bernapas, tapi mereka cuma bilang 'tunggu saja dokter akan datang'. Tapi dokter tidak pernah muncul sampai akhirnya mama pergi," ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak RSUD Gerung belum memberikan keterangan resmi apapun terkait kejadian ini. Ketika ditanya petugas di resepsionis rumah sakit, mereka hanya mengatakan bahwa pihak manajemen sedang memeriksa kasus tersebut dan akan memberikan klarifikasi sesegera mungkin.
Masyarakat sekitar juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kualitas pelayanan di RSUD Gerung setelah kejadian ini beredar. Beberapa warga menyatakan bahwa ini bukan pertama kalinya ada keluhan mengenai tata tertib, ketersediaan tenaga medis, dan akses keluarga ke pasien di rumah sakit tersebut.
"Sudah beberapa kali ada warga yang mengeluhkan bahwa perawatan lambat, dokter sulit ditemukan, dan aturan yang kadang tidak jelas. Tapi kejadian ini yang paling parah yang kita dengar. Nyawa orang tidak bisa terselamatkan


0Komentar