Lombok Barat, DTulis.com - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Rapat Tim Evaluasi Riset dan Inovasi Daerah Provinsi NTB. Salah satu agenda yang dibahas dalam rapat perdana ini, adalah persiapan pelaksanaan Sayembara Riset dan inovasi bagi para peneliti muda NTB Tahun 2026. Rapat berlangsung di Aula BRIDA NTB, Kamis (16/7/2026), dipimpin Kepala BRIDA Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi.
Rapat ini menghadirkan Tim Evaluasi yang telah dibentuk berdasarkan SK Gubernur. Selain melaksanakan tugas akselerasi kegiatan riset dan inovasi agar berdampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah, Tim ini juga bertugas menilai kualitas proposal dalam sayembara sekaligus memastikan hasil riset memiliki nilai terapan, manfaat ekonomi, serta mendukung penyelesaian berbagai permasalahan pembangunan di Nusa Tenggara Barat. Dalam pertemuan tersebut, dipetakan pula tahapan pelaksanaan sayembara, mulai dari penyusunan standar operasional prosedur (SOP), pembuatan desain brosur, sosialisasi, pendaftaran secara daring, seleksi administrasi, evaluasi proposal, pemaparan hasil riset, hingga sidang dewan juri.
Putu Aryadi menegaskan bahwa BRIDA terus memperkuat arah kebijakan riset dan inovasi berbasis terapan sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, seluruh penelitian yang didukung pemerintah daerah harus selaras dengan RPJMD dan roadmap pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Provinsi NTB, serta menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
"Kita ingin setiap inovasi tidak hanya berhenti pada konsep atau laporan penelitian, tetapi benar-benar dapat diimplementasikan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor, pendampingan di lapangan, serta penyusunan *policy paper* sebagai dasar penguatan NTB menuju Rumah Inovasi Daerah," ujar Aryadi.
Sebagai contoh, Aryadi menyampaikan pengalaman riset yang pernah dikembangkan BRIDA melalui pemanfaatan pupuk kompos berbahan baku kotoran sapi dan kelelawar untuk budidaya anggur lokal. Riset tersebut berkembang menjadi inovasi pengolahan anggur menjadi berbagai produk, seperti minuman wine tanpa alkohol dan wine berbumbu rempah yang diminati wisatawan. Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya menghasilkan produk bernilai tambah, tetapi juga mendorong pengembangan sektor pertanian melalui budidaya anggur dan penggunaan pupuk organik dengan melibatkan kolaborasi bersama perguruan tinggi, termasuk Universitas Mataram.
Rapat turut dihadiri praktisi, akademisi, serta perwakilan perguruan tinggi, di antaranya Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Perwakilan dari Unram mengusulkan agar sebelum sosialisasi dilaksanakan, BRIDA terlebih dahulu menyiapkan panduan teknis, mekanisme seleksi substansi, serta ketentuan yang mengatur penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam penyusunan proposal penelitian.
Masukan juga disampaikan Afif Amrullah dari ULM yang menyoroti pentingnya kejelasan tahapan implementasi hasil inovasi setelah proses seleksi. Ia mengusulkan penyempurnaan ketentuan mengenai kualifikasi pengusul, klasifikasi peneliti muda, batas jumlah proposal yang dapat diajukan dalam satu tahun, hingga kewajiban menghasilkan luaran berupa inovasi yang diterapkan, publikasi ilmiah, serta rekomendasi kebijakan.
Melalui SOP yang dimatangkan ini, Tim Evaluasi akan menyeleksi inovasi dari para peneliti muda. Pemprov NTB sendiri telah menyiapkan stimulus dana APBD sebesar Rp30 juta per proposal untuk 15 inovasi terpilih. Fokus riset nantinya akan diarahkan pada tiga program prioritas daerah: penanganan kemiskinan, ketahanan pangan (stunting), dan pengembangan pariwisata.

0Komentar